Kamis, 28 Mei 2009

PEMBINAAN SIKAP BERAGAMA SISWA

PEMBINAAN SIKAP BERAGAMA SISWA
Oleh ; Anwar Hanifah

Secara fenomenal prilaku siswa pada saat ini memang sangat merisaukan, terutama bagi guru / pendidik sebagai penanggungjawab pendidikan di sekolah. Siswa setingkat SMP, sudah tidak malu lagi melakukan tindakan pelanggaran moral seperti berpacaran di sekolah secara terang - terangan pada saat jam istirahat sekolah, duduk berduaan setelah jam pulang dengan tidak mengindahkan guru , memakai pakaian yang mempertontonkan aurat walaupun bagian lainya”jilbab”, berkata - kata jorok, menyimpan gambar gambar seronok di Hp, melanggar disiplin sekolah, merokok di depan guru, meninggalkan sholat dengan alasan yang tidak jelas nyaris tanpa ekspresi dan rasa berdosa sedikitpun, tidak berpuasa pada saat bulan Ramadhan dan lain lain sebagainya. Indikator inilah merupakan tamparan berat bagai guru khususnya guru pendidikan Agama Islam, dimana guru agama dianggap paling bertanggung jawab terhadap hal ini.
Oleh karena itu, mungkin dalam hal ini kita perlu duduk bersama untuk memikirkan bagaimana solusi yang terbaik untuk membina sikap siswa secara kholistik, baik pembinaan prilaku / moral siswa maupun pembinaan sikap beragamanya. Basis pemahaman dan penanaman keimanan ( pembinaan sikap beragama ) inilah yang paling penting dilakukan dan ditingkatkan.
Menurut Bloom, ranah domain pembinaan pendidikan ada tiga macam, yaitu ranah kognitif, afektif dan motor skill. Inti beragama adalah masalah sikap. Di dalam Islam, sikap beragama itu intinya adalah iman. Jadi, yang dimaksud beraganma pada intinya adalah beriman. Di dalam tulisan ini saya mengambil inti beragama itu adalah beriman. Jika kita membicarakan bagaimana caranya mengajarkan Agama Islam, maka inti pembicaraan kita adalah bagaimana menjadikan anak didik kita orang beriman. Jadi inti pendidikan Agama Islam ialah penanaman iman.
Apa yang harus dilakukan agar anak didik kita beriman ? inilah yang saya anggap sebagai pembinaan sikap beragama atau atau pembinaan afektif tersebut. Apakah dengan mengajarkan pengetahuan tentang beriman dan mengajarkan cara beriman, siswa itu akan menjadi orang yang beriman ? Tegasnya, dapatkah iman diajarkan ? Jika tidak dapat, lantas apa yang dapat dilakukan dalam rangka pendidikan keimanan itu ?
Alquran, menjelaskan bahwa manusia itu mempunyai aspek jasmani, dan itu sungguh sungguh. Ini dijelaskan antara lain di dalam sutar Al - Qoshos ayat 77. Di dalam surat Al - A’rof ayat 31, Allah menjelaskan bahwa makan dan minum adalah suatu keharusan, ini suatu indikasi yang jelas bahwa manusia memiliki aspek jasmani. Al Syaibani, mengutip tiga buah hadits yang menerangkan bahwa manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani. Tidak ada pendapat dalam Islam yang merendahkan fungsi tubuh atau jasmani. Pengakuan pentingnya jasmani dalam Islam terlihat juga dalam surat Al -Baqoroh ayat 57, 60, 188 dan surat Al - A’rof ayat 31-32. jasmani dilakukan untuk kerja pisik.
Akal adalah satu aspek dari tiga aspek pokok manusia, ini diakui secara tegas di dalam Islam. Harun Nasution ( 1982 : 39-49) menjelaskan bahwa ada tujuh kata yang digunakan di dalam Alqur’an untuk menyebut konsep akal. Pertama, kata nazaro seperti yang digunakan di dalam surat Ash - Shod ayat 6-7, At Thoriq ayat 5-7 Al - Ghosyiyyah ayat 17-20. Kedua, kata Tadabbara, seperti yang digunakan dalam surat As - Shad ayat 29, Muhammad ayat 24. dan ketiga, Tafakkara, seumpama di surat An Nahal ayat 68-69, Al Jatsiyah ayat 12-13. Selanjutnya ada kata Faqiha, Tadzakkaro, Fahima, dan kata ‘Aqola itu sendiri. Ayat ayat itu mengandung pengertian bahwa Alqur’an mengakui manusia mempunyai aspek ‘Aqal. Akal adalah alat untuk berpikir.
Abdul fatah Jalal ( 1988 : 57-58 ) menjelaskan bahwa kata Aqola, kebanyakan di Al- Quran digunakan dalam bentuk fi’il ( kata kerja ), hanya sedikit dalam bentuk ism (* kata benda ). Ini menunjukan bahwa yang poenting pada akal adalah kerjanya bukan akal sebagai benda ( otak ). Menurut Jalal, ( 1988 : 58 ) juga, kata aqala, menghasilkan kata ‘aqaluhu, ta’qiluna, na’qiluna, ya’qiluna, ya’qiluha, dimuat di dalam alquran pada 49 tempat. Kata Al – bab, jamak kata Al lub yang berarti akal terdapat di dalam Alquran pada 16 tempat.
Aspek pokok ketiga manusia ialah aspek rohani. Aspek ini hampir hampir tidak mendapat perhatian dalam pendidikan barat. Padahal justru aspek inilah yang terpenting di dalam pembinaan keagamaan seseorang. Penjelasan aspek rohani di dalam Alquran surat Al Hijr ayat 29 : maka bila aku menyempurnakan kejadianya dan meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka sujudlah kalian kepadanya. Ayat yang sama terdapat di dalam surat As - Shad ayat 72. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia mempunyai aspek ruh. Menurut Al Syaibani ( 1979 : 130 ) menjelaskan manusia mempunyai tiga potensi yang sama pentingnya yaitu jasmani, akal dan ruh. Eksistensi manusia ialah jasmani, akal dan ruh, ketiga tiganya menyusun manusia menjadi satu kesatuan.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa pembinaan pendidikan harus mencakup ketiga aspek tersebut secara seimbang. Pembinaan keberaagamaanpun harus mempertimbangkan keharmonisan perkembangan ketiga aspek tersebut.
Pembinaan ruh bagaimana ? Apa rohani itu? Yang kita ketahui tentang ruh ialah bahwa ruh itu ada. Allah mengatakan dalam surat Al Isra ayat 85, bahwa pengetahuan manusia tentang ruh itu hanya sedikit dan tidak mencukupi untuk mengetahui hakikat ruh itu.
Abdul Fatah jalal membedakan roh dan qolb, menurutnya dua potensi itu tidak sama, tetapi ia tidak menjelasklan perbedaanya dan tidak juga menuliskan depinisinya. Khusus mengenai qolb dan al qulb menurutnya ( 1988 : 62-63 ) tertulis 132 kali di dalam Alquran, disamping ada kata Al Fuad yang secara bahasa berarti Al Qolb juga. Selain itu juga AlQuran menggunakan Shadr dan Shudur yang berarti dada, tetapi menunjuklan pengertian qalb juga. Di dalam tulisan ini,kata rohani ialah pendidikan kalbu.
Surat Al Hajj ayat 32 antara lain menyatakan bahwa taqwa itu adalah sifat qolbu, jadi bukan sipat akal. Al - Maidah ayat 41 menjelaskan antara lain bahwa yang beriman adalah kalbu.
Surat Al Hujurat ayat 14, lebih jelas lagi “ Orang orang arab badwi itu berkata kami telah beriman,katakan kepada mereka jangan berkata kami telah beriman, kalian mestinya berkata kami telah tunduk karena iman itu belum masuk kedalam kalbu kalian”.
Ayat terakhir itu menjelaskan bahwa iman itu tempatnya di hati ( Qolb/ kalbu ). Menurut Al Qurtubi, kata alqulub dibaca rofa’ ( Al Qulubu ) karena ia berpungsi sebagai subyek ( Fail ) dan kata taqwa diidhofatkan ( disandarkan ) kepada Al Qulub karena taqwa ada di dalam kalbu itu. Taqwa ada di sini ( Sambil beliau menunjuk ke arah dadanya ).
Dengan demikian jelaslah bahwa iman itu tempatnya dihati atau kalbu. Jika Demikian bagaimana menjadikan seseorang beriman ? Ya tanamkan iman dihatinya. Bagaimana caranya menanamkan iman di hati ? Iman dapat ditanamkan melalui pengajaran tentang iman, tetapi hasilnya sedikit sekali, jika ada. Memang perlu juga menanamkan iman melalui pengajaran, sekalipun hasilnya hanya sedikit saja. Pengetahuan iman hanya sedikit saja berpengaruh terhadap tertanamnya iman di dalam hati ( Ahmad Tafsir, 1995 : 127 ).
Menurut Dewantara, pengajaran merupakan sebagian dari usaha pendidikan untuk penambahan pengetahuan dan pembinaan keterampilan. Usaha usaha lain memang banyak pengaruhnya terhadap pembinaan iman , seperti :
1. Memberikan contoh teladan
2. Membiasakan ( tentunya yang baik )
3. Menegakan disiplin
4. Memberi motifasi / dorongan
5. Memberikan hadiah terutama psikologis
6. Menghukum ( dalam rangka pendisiplinan ).
7. Penciptaan sussana yang berpengaruh bagi pertumbuhan positif.
Ketujuh macam usaha itu dapat dilakukan oleh guru di sekolah, kepala sekolah, guru agama, dan oleh guru guru yang lain serta aparat sekolah.Tetapi karena siswa lebih banyak di rumah maka yang paling penting itu dilakukan di rumah. Karena penanaman iman yang paling efektif adalah yang dilakukan oleh orang tua di rumah, karena itu pula guru agama harus dapat bekerjasama dengan orang tua siswa secara harmonis sehingga tercipta suasana yang kondusif di sekolah dan di rumah dalam rangka pembinaan keimanan siswa. Dan hasil akhir yang diharapkan adalah menjadikan siswa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia yang menjadi kebanggaan guru, orang tua masyarakat bangsa dan negara.

Buku Sumber ; Metodologi Pengajaran Agama Islam, Ahmad Tafsir

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar